Kirana dan Raka berkali-kali bertemu di momen yang salah. Dari bangku kuliah hingga awal karier, mereka selalu terhalang jarak, target pribadi, dan ekspektasi keluarga. Suatu hari, mereka membuat kesepakatan sederhana, jika 100 hari ke depan perasaan itu masih ada, mereka akan berhenti menunda dan mencoba bersama. Di antara notifikasi yang tak sempat dibalas, pesan suara yang dihapus, dan jam digital yang terus bergerak, keduanya belajar bahwa waktu bisa terasa elastis ketika hati ikut bicara. Saat tenggat itu mendekat, Raka mendapat tawaran kerja ke luar negeri, sementara Kirana akhirnya mencapai mimpi yang lama ia kejar. Tekanan FOMO dan rasa takut ketinggalan timeline orang lain membuat mereka ragu, apakah cinta harus selalu menunggu momen sempurna. Pada klimaks, mereka dipaksa memilih antara jalan yang rapi di atas kertas atau jalan yang mereka rangkai sendiri. Jawabannya tidak spektakuler, tapi jujur, menegaskan bahwa yang penting bukan seberapa cepat, melainkan seberapa tulus melangkah berdua.