Di dunia yang mengkotak-kotakkan peran, seorang pendeta muda menolak tunduk pada stereotip bahwa penyembuh hanya berdiri di belakang. Ia memilih palu sebagai instrumen iman, memadukan mantra suci dengan pukulan yang mengguncang monster dan ego para petarung yang meremehkannya. Setiap misi bersama guild menjadi panggung pembuktian: sambil menjaga tim tetap hidup dengan penyembuhan presisi, ia menerobos barisan musuh dan merobohkan boss yang dikira kebal terhadap sihir pendeta. Namun semakin besar namanya, semakin tampak batas-batas tak terlihat yang dipasang lembaga keagamaan dan para bangsawan. Ada aturan lama yang melarang pendeta mengangkat senjata, dan alasan di baliknya tidak sesederhana etika. Di antara reruntuhan kuno, ia menemukan petunjuk bahwa palu bukan sekadar alat tempur, melainkan kunci relik suci yang bisa menata ulang peta kekuatan dunia. Pilihannya jelas: tetap patuh pada label, atau menyalakan jalan baru yang membuktikan bahwa iman dan kekuatan fisik bisa berjalan seiring.